Gelombang Solidaritas Menggulung Seluruh Negeri
Demonstrasi ini terasa seperti gelombang pasang yang tidak bisa dibendung. Kota Sydney dan Melbourne menjadi pusat gelombang ini, dengan masing-masing menarik hingga 100.000 demonstran. Bagi Melbourne, ini adalah unjuk rasa pro-Palestina ke-97 berturut-turut, sebuah bukti kegigihan yang luar biasa. Di Sydney, para demonstran membangun momentum dari aksi sebelumnya yang sukses membanjiri Jembatan Pelabuhan.
Gelombang ini terus menyebar. Di Brisbane, sekitar 50.000 orang berkumpul, menunjukkan bahwa bahkan tantangan logistik tidak dapat menghentikan gerakan ini. Di Perth, 20.000 orang turun ke jalan, dan di Adelaide, 15.000 orang. Bahkan di kota-kota yang lebih kecil, seperti ibu kota Canberra dengan 2.000 peserta dan Hobart dengan 5.000 orang, seruan solidaritas ini terdengar keras dan jelas.
Mengapa Mereka Berunjuk Rasa: Sebuah Seruan untuk Tindakan Nyata
Di balik angka-angka yang memukau, ada sebuah pesan yang kuat dan jelas. Para demonstran percaya bahwa pemerintah Australia tidak bisa lagi hanya menjadi penonton. Mereka merasa bahwa keterlibatan tidak langsung melalui perdagangan senjata menjadikan Australia ikut bertanggung jawab atas penderitaan rakyat Palestina.
Senator Queensland Larissa Waters, yang berpidato di Brisbane, mengungkapkan sentimen ini dengan lugas. Ia membandingkan respons Australia terhadap Israel dengan responsnya terhadap Rusia, menuntut agar pemerintah menerapkan standar yang sama. “Warga Australia murka karena kami menjual komponen senjata kepada pemerintah Israel. Ini harus dihentikan,” tegasnya.
Sementara itu, Senator Independen Lidia Thorpe dari Melbourne mengambil pendekatan yang lebih mendalam, menghubungkan perjuangan Palestina dengan perjuangan hak-hak penduduk asli di Australia. Seruannya untuk “memboikot Israel dalam segala bentuknya” mencerminkan pandangan bahwa solidaritas harus melampaui batas-batas geografis dan politik.
Di Barisan Depan: Para Pemimpin dan Aktivis
Kehadiran figur-figur berpengaruh seperti senator-senator progresif ini memberikan legitimasi dan sorotan pada gerakan ini. Selain Waters dan Thorpe, Senator Independen David Pocock di Canberra dan Senator Fatima Payman di Adelaide juga ikut berpartisipasi, menunjukkan pergeseran sikap politik terhadap isu ini.
Senator Payman, yang berani meninggalkan partainya sendiri karena sikapnya terhadap konflik Gaza, menjadi simbol dari ketidakpuasan politik yang meluas. Kehadiran para politisi ini mengirimkan sinyal kepada pemerintah bahwa tekanan tidak hanya datang dari jalanan, tetapi juga dari dalam gedung parlemen itu sendiri.
Selain politisi, seorang jurnalis terkemuka, Antoinette Lattouf, juga ikut berunjuk rasa di Sydney. Lattouf, yang diberhentikan dari pekerjaannya di ABC karena mendukung rakyat Palestina, menjadi simbol perjuangan kebebasan berekspresi dan media yang adil. Kehadirannya menggarisbawahi bagaimana konflik ini telah meluas dari isu geopolitik menjadi isu hak asasi manusia dan kebebasan sipil di Australia.
Dari Jalanan ke Parlemen: Tekanan Politik yang Makin Kuat
Skala demonstrasi yang luar biasa ini tidak bisa diabaikan oleh pemerintah. Di Brisbane, otoritas bahkan sampai harus mengajukan tuntutan hukum untuk memblokir rute protes yang direncanakan, sebuah tindakan yang mencerminkan kekhawatiran mereka terhadap dampak unjuk rasa. Namun, dengan jumlah massa yang mencapai puluhan ribu orang, jelas bahwa para demonstran berhasil mengirimkan pesan mereka.
Dengan adanya demonstrasi yang begitu besar di Australia, bersamaan dengan protes serupa di seluruh dunia—termasuk di Tel Aviv sendiri—tekanan politik terhadap pemerintah Australia untuk mengubah kebijakannya akan semakin meningkat. Unjuk rasa ini adalah bukti bahwa aktivisme publik, ketika disatukan oleh tujuan yang jelas dan moral yang kuat, masih memiliki kekuatan untuk membentuk narasi nasional dan mengubah arah kebijakan.
Sumber: tempo.co