Dakwaan Moral Dunia: Kisah Kelaparan Buatan Manusia yang Melanda Gaza – Jagad Swara
Dakwaan Moral Dunia: Kisah Kelaparan Buatan Manusia yang Melanda Gaza

Dakwaan Moral Dunia: Kisah Kelaparan Buatan Manusia yang Melanda Gaza

Jakarta – Di tengah gemuruh perang dan lautan berita, ada sebuah kata yang sering terlupakan namun kini mengguncang hati nurani dunia: kelaparan. Bukan kelaparan yang diakibatkan oleh bencana alam, melainkan sebuah **bencana yang dibuat oleh tangan manusia**. Sebuah laporan dari Fase Keamanan Pangan Terpadu (IPC) PBB secara resmi mendeklarasikan kelaparan telah terjadi di Jalur Gaza per 15 Agustus 2025, sebuah fakta yang menurut Sekretaris Jenderal PBB **António Guterres** adalah “sebuah dakwaan moral—dan kegagalan umat manusia itu sendiri.”

Kata-kata Guterres menggema di seluruh dunia, karena apa yang terjadi di Gaza adalah paradoks yang menyakitkan: makanan dan obat-obatan menumpuk di perbatasan, sementara di sisi lain, anak-anak dan orang dewasa sekarat karena kekurangan gizi. Seperti yang dikatakan oleh Tom Fletcher, Wakil Sekretaris Jenderal PBB, ini adalah “kelaparan kronis yang sebenarnya bisa kita cegah, jika kita diberi izin.”


Ketika Makanan Menumpuk di Perbatasan

Penyebab utama dari bencana ini bukanlah kelangkaan, melainkan hambatan yang sistematis. PBB melaporkan bahwa 87 persen truk bantuan kemanusiaan dicegat di jalan, sebuah angka yang menyoroti betapa sulitnya upaya untuk menyalurkan bantuan. Akibatnya, makanan yang seharusnya bisa menyelamatkan nyawa justru teronggok di perbatasan.

Warga Gaza yang putus asa harus mempertaruhkan nyawa mereka demi sepotong roti. Laporan dari OHCHR PBB mencatat bahwa 1.857 orang tewas saat mencari makanan hanya dalam waktu tiga bulan, dan sebagian besar dari mereka dibunuh oleh militer Israel. Kelangkaan yang disengaja ini juga membuat harga melonjak tak terkendali. Harga tepung terigu, misalnya, melonjak hingga 3.400 persen, menjadikan makanan dasar pun tak terjangkau bagi sebagian besar penduduk.


Dari Lahan Hijau Menjadi Tanah Mati

Sebelum konflik, Gaza adalah sebuah wilayah dengan lahan pertanian yang subur, menghasilkan sayuran, zaitun, dan buah-buahan. Namun, serangan Israel secara sistematis menghancurkan fondasi ketahanan pangan lokal. Citra satelit yang dianalisis oleh FAO mengungkapkan bahwa 98,5 persen lahan pertanian di Gaza hancur atau tidak dapat diakses.

Lahan hijau yang dulu menopang mata pencarian ratusan ribu orang kini menjadi tanah mati. Kerusakan ini, ditambah dengan kehancuran infrastruktur air, irigasi, dan pasar, membuat warga Gaza sepenuhnya bergantung pada bantuan luar yang seringkali tidak sampai. Laporan FAO memperkirakan kerugian di sektor pertanian saja mencapai US$ 2 miliar, sebuah angka yang menunjukkan skala kehancuran yang tak terbayangkan.


Wabah Kelaparan dan Penyakit Mengincar Anak-Anak

Anak-anak adalah korban paling tragis dalam krisis ini. IPC memproyeksikan bahwa hingga Juni 2026, setidaknya 132.000 anak balita akan menderita malnutrisi akut. Di antara mereka, lebih dari 41.000 anak berada dalam kondisi malnutrisi parah, sebuah kondisi yang seringkali berakhir dengan kematian. Kondisi ini diperparah dengan rusaknya sistem kesehatan.

Fasilitas kesehatan hancur, pasokan obat-obatan dan bahan bakar habis, dan program nutrisi penting dihentikan. Akibatnya, anak-anak yang kelaparan menjadi sangat rentan terhadap penyakit. Laporan mencatat bahwa 43 persen anak menderita diare, dan hampir separuh populasi anak terkena penyakit kulit. Mereka terjebak dalam lingkaran setan di mana kelaparan membuat mereka sakit, dan penyakit menghalangi mereka untuk mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan.


Seruan untuk Bertindak: Apa yang Akan Kamu Lakukan?

Menanggapi bencana ini, PBB dan komunitas internasional menyerukan tindakan segera. “Ini adalah kelaparan yang seharusnya mendorong dunia untuk bertindak lebih cepat,” kata Tom Fletcher. “Yang seharusnya membuat dunia malu dan berbuat lebih baik lagi. Kelaparan ini juga bertanya: ‘… dan sekarang apa yang akan kamu lakukan?’”

Pertanyaan itu ditujukan kepada setiap pemimpin dunia, setiap pemerintah, dan setiap individu. Sekjen PBB Guterres dengan tegas menyatakan bahwa Israel memiliki kewajiban moral dan hukum internasional untuk memastikan pasokan pangan bagi penduduk Gaza. Ia menekankan bahwa tidak ada lagi alasan untuk menunda. Tom Fletcher bahkan mengungkapkan bahwa PBB siap untuk kembali mengirimkan 600-700 truk bantuan per hari seperti yang berhasil mereka lakukan selama gencatan senjata sebelumnya.

Krisis ini adalah cerminan dari kegagalan kolektif umat manusia. Sebuah kelaparan yang sepenuhnya bisa dicegah, namun dibiarkan terjadi. Kini, dunia menunggu jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh Gaza: “Sekarang apa yang akan kamu lakukan?”

Sumber: tempo.co

 

Tags :

Search

Popular Posts

Categories