Suara Musik Mengganggu Misa, Gereja Purbayan Buka Suara soal Event di Balai Kota Solo – Jagad Swara
Suara Musik Mengganggu Misa, Gereja Purbayan Buka Suara soal Event di Balai Kota Solo

Suara Musik Mengganggu Misa, Gereja Purbayan Buka Suara soal Event di Balai Kota Solo

Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan, yang berlokasi persis di samping Balai Kota Solo, mengungkapkan bahwa kebisingan dari acara-acara yang digelar di Balai Kota sudah menjadi keluhan lama, bukan hanya baru-baru ini. Suara keras dari event tersebut dinilai mengganggu kekhusyukan peribadatan, meskipun Misa tetap berlangsung.

Terganggunya Kekhusyukan Ibadah

Pastor Paroki Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan, Walterus Teguh Santosa, menjelaskan bahwa suara bising memang mengganggu suasana ibadah. Ia menekankan bahwa Misa membutuhkan suasana khusyuk dan hening agar umat dapat memusatkan hati mereka. “Kalau terganggu ya memang terganggu. Cuma bisingnya aja ya, tapi tetap berjalan. Suasana gereja itu kan suasana khusyuk, hening, mengarahkan hati begitu, sehingga kalau di samping suasana apa keramaian itu ya kemudian mengganggu keheningan begitu. Itu yang terjadi,” ujar Pastor Teguh.

Pengakuan ini datang setelah video yang diunggah oleh salah satu jemaat di media sosial menjadi viral, memperlihatkan perbedaan mencolok antara suasana hening di dalam gereja dengan suara musik yang keras dari luar. Video tersebut menjadi pemicu publik untuk mengetahui lebih lanjut tentang masalah ini.

Komunikasi Terbuka dengan Wali Kota Solo

Meskipun menyayangkan kejadian ini, Pastor Teguh melihatnya sebagai kesempatan untuk membuka kembali jalur komunikasi dengan Wali Kota Solo yang baru, Respati Ardi. Ia mengungkapkan bahwa setelah pergantian kepemimpinan di Balai Kota, komunikasi intensif mengenai jadwal peribadatan sempat terputus.

“Ya, peristiwa itu membuka mengenai hal yang kemudian tadi itu penting untuk di komunikasi ke depannya itu dikomunikasikan,” kata Pastor Teguh. Ia menambahkan bahwa di masa kepemimpinan sebelumnya, pihak Balai Kota sudah memahami jadwal Misa dan mengatur volume suara agar tidak mengganggu.

Wali Kota Solo, Respati Ardi, telah menyampaikan permohonan maaf secara langsung atas kejadian ini. “Saya belum tahu jadwal mengenai peribadatan di gereja,” kata Respati, yang kemudian meminta maaf. Hal ini menunjukkan adanya niat baik dari kedua belah pihak untuk menyelesaikan masalah dengan komunikasi yang lebih baik ke depannya.

Keluhan Berulang dari Jemaat

Ketua Bidang Liturgi, Elisabet Selvya, memperkuat pernyataan Pastor Teguh dengan mengatakan bahwa keresahan ini sudah berlangsung lama. Menurutnya, sejak era Wali Kota sebelumnya, Gibran Rakabuming Raka, ketika halaman Balai Kota dibuka untuk umum, kebisingan dari berbagai event sering kali terjadi.

“Sebenarnya itu enggak baru-baru kemarin hanya saja kemarin kebetulan ada umat yang sedang misa kemudian mengunggah di medsos yang tapi sebenarnya kan itu sudah dari tahun lalu tahun lalu juga kami cuman diam gitu loh ya,” ungkap Elisabet.

Ia menambahkan bahwa video viral tersebut diunggah oleh jemaat yang memang sudah lama merasakan keresahan. “Kami cuman diam tapi sebenarnya jadi memang malah dari umat yang kebetulan beribadah misa kok mengeluhkan gitu kan terganggu dan nanti kami ibadah butuh keheningan tapi akhir-akhir ini, bukan akhir ini, sudah di mulai tahun-tahun kemarin juga seperti iya sering itu,” ucapnya.

Solusi Jangka Pendek dan Harapan ke Depan

Untuk mengurangi dampak kebisingan, Elisabet Selvya memberikan saran praktis. Ia berharap ke depannya akan ada komunikasi yang lebih intensif antara pihak gereja dan penyelenggara acara di Balai Kota.

“Misalnya, contoh kecilnya speaker yang nggak dihadapi di sini ya arah mungkin speakernya di sebelah sana menghadap ke jalan atau ke sana itu mungkin sedikit mengurangi juga,” jelasnya.

Saran ini menunjukkan pendekatan yang konstruktif dari pihak gereja, yang tidak hanya mengeluhkan masalah, tetapi juga menawarkan solusi yang bisa diterapkan. Harapannya, dengan adanya koordinasi yang lebih baik, Balai Kota Solo bisa terus menjadi pusat kegiatan publik tanpa mengganggu kekhusyukan ibadah di Gereja Katolik Santo Antonius Purbayan.

Kasus ini menjadi pelajaran penting bagi pemerintah daerah dalam menyelenggarakan event, khususnya di area yang berdekatan dengan tempat ibadah. Keseimbangan antara hiburan publik dan hak beribadah merupakan hal yang harus dijaga demi terciptanya toleransi dan harmoni di tengah masyarakat.

Sumber: detikjateng.com

Tags :

Search

Popular Posts

Categories